KALENDER NUSANTARA · BATAK/KARO
Porhalaan Batak dan Kalender Karo
Porhalaan merupakan pengetahuan waktu, pertanian, ritual, serta almanak yang memiliki varian Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, dan Mandailing.
Porhalaan atau Parhalaan adalah pengetahuan waktu Batak yang dicatat pada pustaha, bambu, tulang, atau bahan lain. Ia berkaitan dengan Bulan, Matahari, bintang, pertanian, organisasi bius, ritual, dan pemilihan waktu. Label “kalender Batak” tidak berarti semua subkelompok memakai tabel serta aturan yang sama.
Porhalaan Batak Toba
Tiga puluh nama hari mengikuti perubahan Bulan, dari Artia hingga Ringkar. Tula berada di sekitar bagian purnama, sedangkan nama akhir seperti Samisara Bulan Mate, Hurung, dan Ringkar berkaitan dengan Bulan yang menurun atau mati.
Penelitian lapangan menjelaskan dua kebutuhan yang berjalan bersama: hitungan Bulan dan penyelarasan kegiatan pertanian dengan tahun Matahari. Sisa atau bulan penyesuaian disebut lobi-lobi ni bulan atau Lamadu. Lihat kajian astronomi dan time-keeping Batak.
Katika dan Wari Si Telu Puluh Karo
Kalender Karo mengenal 30 nama hari dari Aditia sampai Samisara. Istilah Wari Si Telu Puluh menekankan urutan hari/fase tersebut. Pengetahuan ini digunakan bersama Sipaka, pembagian waktu Mamis si Lima, arah Desa Siwaluh, serta keahlian guru perkatika.
Sumber kebudayaan pemerintah masih mencatat tanggal Karo dalam kerja tahunan seperti Merdang Merdem.
Mengapa belum ada konverter
- Sebagian sumber memperlakukan 30 baris sebagai nama hari almanak; sumber lain menyebut bulan 29/30 atau 30 hari.
- Lamadu dilaporkan sebagai sisa tahun, bulan ke-13 tiga tahunan, atau siklus berbeda.
- Awal tahun dapat bergantung pada Bulan baru serta posisi Orion dan Scorpio.
- Penomoran tahun tidak selalu dikenal atau hanya digunakan terbatas.
- Varian Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, dan Mandailing membutuhkan profil tersendiri.
Almanak dan batas tafsir
Simbol kalajengking serta tanda lain dalam Parhalaan dapat menandai klasifikasi hari. Pada tradisi Karo, penentuan waktu dapat dilakukan guru perkatika. Artikel mendokumentasikan fungsi ini, tetapi aplikasi tidak mengeluarkan keputusan baik/buruk, diagnosis, ramalan, atau rekomendasi upacara.
Naskah dan Aksara Batak
Surat Batak memiliki tradisi regional dan ortografi naskah. Nama kalender harus ditranskripsi dari objek dengan provenance, kemudian ditinjau penutur dan ahli naskah. Mengubah ejaan Latin ke Unicode secara otomatis berisiko menghapus variasi penting.
Sumber
Model awal membandingkan penelitian lapangan, kajian astronomi, serta Kalender Peramalan Batak terbitan museum/Kemendikbud. Konflik sumber dipertahankan dalam dokumentasi dan menjadi alasan konversi belum diterbitkan.