KALENDER NUSANTARA · JAWA
Kalender Jawa Sultan Agungan
Kalender Jawa menggabungkan penanggalan lunar Sultan Agungan dengan beberapa siklus waktu yang berbeda: pasaran, weton, pawukon, dan kalender musim Pranata Mangsa.
Gunakan halaman ini untuk memahami hasil Kalender Jawa yang tampil pada tanggal pilihan Anda. Penjelasan metode tetap tersedia, tetapi ditempatkan setelah arti hasil dan tindakan yang paling sering dibutuhkan.
Yang dapat Anda lihat
- Tanggal Jawa lengkap: tanggal, bulan, tahun AJ, dan nama warsa.
- Weton: pasangan hari tujuh harian dengan pasaran lima harian.
- Wuku dan neptu: identitas siklus hari, bukan ramalan otomatis.
- Cakupan: profil Yogyakarta–Kurup Asapon, 24 Maret 1936–25 Agustus 2052.
Kalender Jawa bukan satu siklus tunggal. Tanggal Sultan Agungan, pekan tujuh hari, pasaran lima hari, weton 35 hari, pawukon 210 hari, dan Pranata Mangsa mempunyai aturan serta fungsi yang berbeda. Aplikasi menghitungnya sebagai domain terpisah agar sebuah hasil tidak memperoleh kewenangan yang tidak dimiliki sumbernya.
Asal sistem Sultan Agungan
Reformasi pada masa Sultan Agung mempertahankan nomor tahun Saka/Jawa tetapi mengganti pola tahunnya menjadi kamariah. Karena kalender ini kemudian mengalami koreksi kurup dan keputusan keraton, kata “Asapon” saja belum selalu cukup untuk mengidentifikasi seluruh matriks bulan. Profil, otoritas, dan rentangnya perlu disebut bersama.
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat masih memakai kalender Jawa untuk upacara adat, sementara kalender Masehi digunakan untuk administrasi. Lihat penjelasan Kalender Jawa Sultan Agungan dari Karaton Yogyakarta.
Dua belas bulan
| Bulan | Panjang dasar |
|---|---|
| Sura | 30 hari |
| Sapar | 29 hari |
| Mulud | 30 hari |
| Bakdamulud | 29 hari |
| Jumadilawal | 30 hari |
| Jumadilakir | 29 hari |
| Rejeb | 30 hari |
| Ruwah | 29 hari |
| Pasa | 30 hari |
| Sawal | 29 hari |
| Sela / Apit | 30 hari |
| Besar | 29 atau 30 hari |
Bulan Besar menjadi 30 hari pada tahun panjang. Matriks bulan harus disimpan per profil karena beberapa almanak mengubah letak hari tambahan untuk menjaga agenda ritual tertentu.
Windu dan pola tahun Asapon
| Urutan | Warsa | Panjang | Jenis |
|---|---|---|---|
| 1 | Alip | 354 hari | Wastu |
| 2 | Ehe | 355 hari | Wuntu |
| 3 | Jimawal | 354 hari | Wastu |
| 4 | Je | 354 hari | Wastu |
| 5 | Dal | 355 hari | Wuntu |
| 6 | Be | 354 hari | Wastu |
| 7 | Wawu | 354 hari | Wastu |
| 8 | Jumakir | 355 hari | Wuntu |
Satu windu berjumlah 2.835 hari. Pola produksi 354, 355, 354, 354, 355, 354, 354, 355 menempatkan Je sebagai tahun pendek dan Dal sebagai tahun panjang. Ini cocok dengan checkpoint hidup Keraton Yogyakarta, termasuk 1 Sura Dal 1959 pada Jumat Kliwon, 27 Juni 2025.
Pasaran, weton, dan pawukon
- Pasaran
- Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon membentuk siklus lima hari yang berjalan bersama pekan tujuh hari.
- Weton
- Pasangan hari dan pasaran berulang setiap 35 hari. Neptu adalah bobot tradisional pada kedua unsur itu, bukan ukuran ilmiah watak seseorang.
- Pawukon
- Tiga puluh wuku × tujuh hari membentuk siklus 210 hari. Engine memakai anchor 8 Juli 1633 = Jumat Legi, Wuku Kulawu.
- Windu dan lambang
- Nama siklus tahunan yang perlu ditampilkan bersama sumber dan epoch; audit sumber primer masih berlangsung.
Pranata Mangsa
Pranata Mangsa adalah kalender solar-musim tersendiri yang membagi tahun menjadi 12 mangsa dengan panjang tidak seragam. Ia dapat menjelaskan pengetahuan ekologis dan pertanian tradisional, tetapi tanda alamnya bersifat regional dan tidak boleh dipresentasikan sebagai prakiraan cuaca BMKG. Implementasinya belum diaktifkan pada kalender harian.
Primbon dan petungan
Primbon adalah genre kompendium dengan banyak edisi dan varian. Tidak ada satu “rumus jodoh Jawa” universal. Setiap petungan yang kelak ditampilkan harus menyebut kitab, edisi, halaman, wilayah, rumus, perlakuan sisa nol, serta penyangkalan bahwa hasil budaya tersebut bukan prediksi faktual, diagnosis, atau dasar keputusan keselamatan dan finansial.
Aksara Jawa
Aksara Jawa akan ditampilkan sebagai literal Unicode yang sudah dikurasi. Transliterasi Latin tidak cukup dilakukan karakter demi karakter karena pepet/taling, pasangan, vokal akhir, serta ejaan serapan memerlukan keputusan linguistik. Paket lengkap nama hari, pasaran, bulan, warsa, dan wuku masih menunggu pemeriksaan penutur atau filolog.
Batas dan varian
- Hari tradisional dimulai setelah matahari terbenam; engine tanggal saat ini tetap memakai tanggal sipil sampai aturan lokasi dan waktu tervalidasi.
- Surakarta, komunitas Aboge, dan rekonstruksi historis harus menjadi profil tersendiri.
- Kurup Anenhing diperkirakan mulai 26 Agustus 2052, tetapi pola produksinya belum diteruskan sebelum ada sumber otoritatif.
- Kalender Jawa aritmetika tidak menggantikan keputusan Hijriah resmi untuk ibadah.
Sumber dan pengujian
Anchor dan checkpoint dibandingkan dengan agenda Karaton Yogyakarta, kajian ilmu falak, serta almanak yang diaudit. Konversi dua arah diuji round-trip untuk 42.524 tanggal dalam rentang Asapon. Artikel algoritma Kalender Imlek dicatat sebagai sumber sekunder dengan riwayat koreksi Je/Dal, bukan sebagai satu-satunya otoritas.